Kamis, 05 Juni 2014

HIDUP ITU PERJUANGAN DENGAN SEGALA HAL




Kerasnya hidup di jakarta membuat kita untuk lebih keras lagi dalam berusaha hidup dan tinggal di jakarta. Disini saya akan menceritakan pengalaman waktu saya selama tinggal di jakarta tepatnya di tanjung priuk jakarta utara. Dulu tahun 2009 sampai 2012 saya pernah kerja di tempat hiburan wisata ancol yang berawal dari staff tiketing atau sering disebut dengan tiket sales pintu gerbang utama hingga menjadi seorang kasir.

Awal kerja di ancol saya belumlah memiliki kendaraan pribadi seperti motor sedangkan saya dulu tinggal di daerah depok dan harus bulak balik kurang lebih 1 bulan hingga akhirnya saudara menawarkan untuk tinggal bareng di daerah tanjung priuk. Selama 5 bulan saya berangkat kerja angkutan umum metromini, dan di sini saya baru pertama kali yang mengalami kecopetan handphone. Tapi dari situ saya coba untuk lebih berhati-hati di jalan selama di angkutan umum agar tidak terjadi untuk kedua kalinya.

Dengan niat yang ingin memiliki motor untuk mempermudahkan saya dalam menempuh ke tempat kerja atau pulang ke rumah lebih cepat dan singkat. Akhirnya saya memilik motor ya walau bekas tapi paling tidak saya bangga dengan hasil uang sendiri yang susah payah saya kumpulkan selama berbulan-bulan. 

Sebenarnya saya agak segan untuk menceritakan hal-hal ini karna ini termasuk aib bagi perusahaan dimana tempat pernah saya kerja. Karena kalau di lihat-lihat semua temen kerja saya pada saat itu kebanyakan perantau semua, tetapi mereka selalu ada saja uang untuk beli ini itu dan barang yang baru dan mahal padahal kalau dihitung gaji ya samalah standart UMR jakarta pada saat itu masih 1,4 juta. Setelah usut punya usut ini lah awalnya anak-anak yang kerja di ancol selalu makmur bergelimang dengan uang yang banyak, bila tidak kuat iman ya sudahlah maka kita akan sama seperti mereka-mereka ini.

Jadi anak-anak ancol yang bagian tiket sales yang diluar ruang kasir itu bekerja sama dengan kasir yang ada didalam ruang kasir dengan cara main tiket atau manipulasi tiket. Setiap pengunjung ancol yang masuk ancol diwajibkan membayar tiket masuk ancol terkecuali bila memiliki free pass. Semua pengunjung berbeda-beda dalam bertransaksi, ada yang memberi uang pas dan ada yang lebih, kalau lebih tentunya harus kembali donk.

Jadi apabila pengunjung itu menaiki mobil dan membayar uang dengan lebih dari harga masuk ancol otomatis pasti kembali. Contohnya saja dari harga tiket 1 orang 15.000 dan parkir mobil 20.000, apabila didalam mobil ada 4 orang jadi 15.000 x 4 orang = 60.000 ditambah parkir 20.000 jadi total 80.000. Seandainya pengunjung itu memberikan uang selembar 100.000 pastinya kembali 20.000 dan pada saat mengembalikan uang dibarengi dengan selembar tiket masuk ancol dan kartu parkir.

Tapi disini ada kejanggalan dalam bertransaksi pengembalian uang kembali. Jadi, pada saat tiket sales menyerahkan uang 100.000 kepada kasir, kasir tidak mencetak tiket print out dan hanya memberi uang kembali 20.000 dan kartu parkir saja. Karna sebagian banyak pengunjung mereka lebih mementingkan kartu parkir keluar dan kembalian saja tanpa dengan tiket masuk ancolnya ada apa tidak. Ternyata uang yang 80.000 itu bukanlah masuk ke laci kasir melainkan kekantong kasir yang nantinya selama kerja dalam satu jalur dan satu sift hasilnya semua akan dibagi 2 antara kasir dan tiket sales. 

Dalam satu sift itu mereka berkerja selama 8 jam, dan selama 8 jam itu mereka selalu bersama karna satu jalur loket dan satu sift. Adapun istirahatnya selama satu jam, tapi satu jam ini hanya peraturan saja, nyatanya orang istirahat semaunya dari yang mau pura-pura mau kekamar kecil, makan minum dan merokok sejenak padahal berjam-jam.

Dalam melancarkan aksinya mereka memilih-milih pengunjung dan jumlah orang yang masuk karna mereka hanya mengincar yang pengunjungnya banyak. Dalam satu sift saja di hari biasa weekday mereka bisa mengantongi uang masing-masing 500-700 ribu. Tapi berbeda bila mereka beraksi di weeknd seperti sabtu atau minggu yang pengunjungnya membludak mereka bisa mengantongi masing 1 juta – 1,5 juta persift. 

Ini semua sudah adatnya dari senior-senior yang sudah lama berkerja disana bahkan karyawannya juga yang meminta mereka untuk seperti itu dan pasti minta jatah setoran hasil transaksi. Kita memang butuh uang, karna semua orang, keperluan dan kebutuhan tidak jauh dari uang. Tapi kita harus bisa memilih cara mana yang di ridhoi allah untuk sebuah rezeki. Jika dinilai dan dilihat kasus seperti ini mereka koruptor atau malingkah? Hanya kalian yang bisa menilainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar