Kamis, 05 Juni 2014

KECANDUAN KETINGGIAN DAN KECANDUAN GANJA



Disini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kisah nyata dari temen saya yang hidupnya bergantung pada dua hal diatas yang sangat jauh perbedaannya antara kecanduan ketinggian dan kecanduan narkoba. Tapi menurut dia itu adalah jalur hidupnya, dua hal yang tidak bisa dilepaskan 

Di awali dari kecanduan narkoba, yang sudah dia kenal semenjak masih SMK tingkat 1 yang awalnya hanya mengenal satu macam narkoba yaitu ganja/cimenk/gele. Awalnya dia hanya coba-coba dan merasakan efek sampingnya yang bisa membuat dia tenang dan happy tanpa beban. Hingga pada akhirnya kita semua lulus SMK dan banyak memilih untuk kerja dan kuliah, termasuk dia yang memutuskan kuliah di salah satu universitas swasta di jakarta.

Semenjak dan selama dia kuliah disana dia ternyata sudah merasakan semua jenis narkoba kecuali jenis putaw dengan jarum suntik. Di awali coba-coba sabu, inex atau ectasy sudah dia rasakan, memang itu semua berpengaruh dari lingkungan sekitar dan dari diri sendiri. Yang tadinya dia hanya coba-coba hingga akhirnya dia tergiur hasilnya dan mencoba bisnis tersebut dengan berjualan ganja dan sabu untuk sekitar kampus  dan teman-teman dekat kosnya.

Kurang lebih dua tahun dia menjalani bisnis jual narkoba secara lancar dan tersembunyi tanpa disadari terciumlah bisnis itu sampai ke telinga oknum kepolisian polres jakarta selatan. Ternyata dia menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) yang masih ada nama untuk pencarian orang, beda dengan TO (Target Operasi) klo TO ini berarti sudah masuk menjadi target inceran polisi dan bisa fatal bila tertangkap tentunya masuk bui.

Setelah terdengar namanya telah masuk DPO akhirnya dia memutuskan kabur kurang lebih 2 bulan tidak kuliah karna kabur dari pencarian polisi. Selama 2 bulan dia kabur dia pergi dengan menjelajah beberapa gunung, karna hobbinya juga naik gunung. Pada saat itu dia kabur mendaki gunung rinjani dan semeru dan tentunya dengan membawa uang yang lumayan banyak hasil penjualan dan yang tidak lupa dia selalu membawa ganja yang paling sedikit dia bawa setengah kilo untuk masa pelarian dia (katanya sich teman sejati yang menamani) sambil berucap “freedom rastaman from jamaica, yomaaan” 

Setelah dia merasa aman kembalilah dia kejakarta dan melakukan aktifitas seperti biasa kuliah, main dan yang pasti make dan jaualan lagi. Klo ngomongin soal ganja sama dia gak ada abisnya mau melarang gimanapun dia cukup menjawab “tuhan menciptakan manusia, hewan dan tanama. Tuhan menciptakan ketiganya pasti memiliki fungsi dan manfaat, begitu juga dengan ganja yang berasal dari tanaman alam, tanpa ditanam mereka akan tumbuh sendiri. Ganja berasal dari alam dan tak ada yang bisa menghentikan beda dengan narkoba jenis lain yang dibuat oleh manusia”.

Tapi klo dipikir-pikir ya benar juga, tanaman yang ada di alam pasti memiliki fungsi dan manfaat. Tetapi, bagaimana kita sendiri yang menilai dan memproses barang itu menjadi seperti apa. Contohnya saja ganja dipakai untuk bumbu masakan padang dan di bidang kesehatan dipakai untuk penenang, asal ada takaran dan mengikuti resep dokter.

Dia mengakui klo dia sangat kurang merokok tapi lebih sering ngeganja karna buat dia ganja sama rokok ya sama-sama dihisap hanya beda efek saja. Dan setiap dia naik gunung dia selalu membawa ganja, baik naik sendiri maupun berapa orang yang penting dia bisa menghisap ganja. Dia naik gunung hampir sebulan sekali, setiap hasil jualan ganja selalu dia sisihkan untuk naik gunung. Karena menurut dia mendaki gunung sebuah keperluan dan menghisap ganja adalah sebuah kebutuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar